Indonesia saat ini mulai terjangkit demam entrepreneurship, semangat berwirausaha mulai menjangkiti banyak orang, mulai dari anak muda hingga orang tua, dari anak baru lulus kuliah hingga karyawan yang sudah bekerja mapan.

Semangat berwirausaha dimulai dari makin banyaknya buku-buku motivasi yang di jual di toko-toko buku, yang mengajarkan untuk lebih berani memulai bisnis atau usaha sendiri. Tidak hanya sekedar motivasi, buku-buku yang mengajarkan bagaimana teknis membangun dan memulai bisnis pun mudah di dapatkan di mana-mana. Hal ini tentunya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi bangsa, jika pada akhirnya semakin banyak orang yang memiliki usaha sendiri.

Hanya saja perlu dipahami untuk memulai sebuah usaha, tidak hanya bermodalkan keberanian saja atau ibaratnya modal nekat. Banyak orang saat ini menginginkan memiliki sebuah usaha demi menuju kebebasan finansial atau sekedar sebagai pasive income, hanya saja masih banyak yang hanya sekedar action saja, tanpa adanya perhitungan dan perencanaan yang matang, sehingga banyak yang langsung bertumbangan di awal usahanya. Memulai usaha di perlukan suatu perencanaan, perhitungan yang tepat, karena ketika Anda memulai suatu usaha tentunya keuntungan jangka panjang yang Anda inginkan.

Adapun bagi saya selaku seorang konsultan perencana keuangan, merencanakan keuangan dalam memulai suatu usaha sangatlah penting, hal ini supaya keuangan usaha dan keuangan pribadi dapat tetap di kelola dengan baik. Adapun hal-hal sebagai berikut yang dapat Anda lakukan dalam mempersiapkan keuangan usaha Anda, supaya dapat berjalan dengan baik.

 

  1. Persiapkan Dana Darurat atau Dana Cadangan

    Tentunya untuk memulai suatu usaha akan diperlukan sejumlah dana sebagai modal awal, nah sebaiknya Anda tidak mempergunakan seluruh uang Anda untuk dijadikan sebagai modal di awal usaha Anda. Misal, Anda memiliki uang sebagai modal sebesar Rp. 100.000.000, maka jangan langsung di pergunakan seluruhnya sebagai modal awal, sebaiknya di bagi menjadi 3 bagian terlebih dahulu. Hal ini supaya Anda memiliki dana cadangan, apabila seandainya usaha awal Anda mengalami kegagalan, maka Anda masih memiliki dana untuk memulai lagi usaha kedua bahkan usaha ketiga Anda.

    Kegagalan dalam usaha tentunya menjadi hal yang umum terjadi bagi pemula, karena pastinya belum memiliki pengalaman. Ketika di awal usaha Anda gagal, tentunya akan menjadi pengalaman yang baik untuk memulai usaha berikutnya. Nah bayangkan apa jadinya jika Anda langsung menggunakan seluruh uang Anda untuk memulai usaha, dan ternyata mengalami kegagalan?

    Dengan membagi tiga atau lebih banyak lagi uang Anda sebagai dana cadangan, maka Anda dapat terus mencoba menjalankan usaha Anda, meskipun kegagalan terjadi. Dan tentunya semakin banyak pengalaman yang Anda dapatkan, akan semakin mendekatkan Anda pada kesuksesan.

  2. Membuat Business Planning

    Jangan langsung menjalankan bisnis Anda tanpa sebuah perencanaan dan perhitungan. Buat terlebih dahulu prencanaan bisnis Anda, pertama bisa di mulai dengan menentukan jenis usaha yang Anda ingin jalankan, lakukan pemantauan atau sebuah penelitian, apakah usaha yang akan Anda buat nantinya masih di butuhkan oleh orang banyak? Tentukan badan usaha yang akan Anda gunakan untuk memulai usaha, hal ini untuk menjaga kredibelitas usaha Anda. Lakukan budget planning, terkait dengan biaya-biaya yang akan di keluarkan saat usaha mulai beroperasi. Buatlah juga proyeksi keuangan terkait dengan penerimaan dan penjualan usaha. Hitung dan lakukan analisa break event point.

    Dengan melakukan perencanaan bisnis maka Anda dapat mengetahui apakah usaha yang akan Anda lakukan sudah tepat atau sesuai dengan yang Anda inginkan atau tidak.

  3. Pisahkan Keuangan Pribadi Dengan Keuangan Usaha Anda.

    Beberapa orang yang punya usaha sendiri (masih berbentuk usaha perorangan) menganggap kalau bisnis nya adalah dirinya. Memang, itu bisnis Anda, tetapi Anda harus mengganggap bisnis Anda adalah sebuah entitas atau “orang” yang harus hidup sendiri. Biarkan bisnis Anda membeli kebutuhannya dengan uangnya sendiri. Anda bisa saja membeli peralatan dan keperluan bisnis Anda dengan merogoh kocek Anda pribadi. Tapi seharusnya itu hanya terjadi di awal Anda memulai usaha, yang di akui sebagai “Modal Awal” bisnis Anda. Kalaupun ketika berjalan tetap membutuhkan uang pribadi Anda, anggap itu sebagai “Hutang Usaha” atau “Tambahan Modal Disetor”.

    Biarkan bisnis Anda berkembang sesuai kemampuannya sendiri. Pisahkan pencatatan keluar masuk nya uang di bisnis Anda dari keuangan pribadi Anda. Kalaupun Anda tidak terlalu mengerti tentang neraca keuangan atau sistem akuntansi, buat itu sesimple mungkin. Yang pasti, itu terpisah dari uang pribadi Anda. Jika bisnis Anda sudah menghasilkan keuntungan (uang), tentukan porsi yang akan Anda ambil sebagai keuntungan pribadi Anda sebagai pemilik bisnis, lalu sisanya simpan di rekening bisnis Anda sebagai “Laba Ditahan”. Apa gunanya menyisihkan keuntungan seperti itu? Itu tadi, untuk mengembangkan bisnis Anda sendiri. Dengan cara seperti ini, Anda dengan pasti dapat mengetahui kemampuan bisnis Anda sendiri.

    Memang jika usaha masih kecil, kita cenderung sering menyamakan antara uang yang diterima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Bahkan kita biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening. Padahal, jika keuangan usaha dan keuangan pribadi digabung, Anda akan kesulitan dalam melakukan monitoring pendapatan atau pun pengeluaran yang telah dilakukan. Dengan melakukan pemisahan pencatatan antara keuangan usaha dengan keuangan pribadi, maka akan lebih mudah untuk membedakan antara arus dana dari usaha dengan penggunaan uang untuk kepentingan pribadi.

  4. Catat dan Lakukan Pembukuan Keuangan Harian

    Ketika usaha Anda sudah berjalan maka pastikan setiap harinya dilakukan pencatatan, baik uang keluar (pengeluaran) maupun uang masuk (pemasukan). Gunakan tools sederhana seperti pencatatan manual di buku atau menggunakan MS. Excel. Hindari penggunaan software yang harganya cukup  mahal, karena usaha Anda masih di tahap awal belum tentu membutuhkan software yang canggih dan rumit. Seringkali saya temui pemilik usaha memaksakan menggunakan software untuk usahanya tetapi pada prakteknya tidak di pergunakan secaran maksimal dan benar.

    Pastikan pencatatan dilakukan rutin setiap harinya sesuai transaksi yang terjadi pada usaha Anda, dan lakukan juga filing setiap bukti (struk/nota/invoice) pembayaran atau penerimaan, hal ini untuk melakukan cross check antara pencatatan yang Anda lakukan dengan bukti transaksi yang terjadi setiap harinya. Sehingga apabila ada kesalahan atau penyimpangan pencatatan dapat diperbaiki.

  5. Pentingnya Sebuah Laporan Keuangan

    Banyak orang bilang, untuk menilai kualitas seseorang cukup di lihat dari penampilannya. Seseorang dengan penampilan Rapih dan bersih tentunya memiliki kualitas hidup yang baik, benarkah? Tentunya tidak selalu, meskipun berpenampilan rapih dan bersih belum tentu seseorang itu memiliki kualitas hidup yang baik. Begitu juga dengan sebuah usaha, banyak yang menilai kesuksessan sebuah usaha hanya dilihat secara kasat mata saja, seperti ketika sebuah toko yang terlihat ramai dengan pengunjung, maka orang-orang akan mengatakan bahwa toko itu hebat pasti telah berhasil mendapatkan pemasukan yang besar. Atau contoh lain adalah seseorang yang memiliki usaha counter handphone, orang-orang akan berdecak kagum ketika mengetahui dia sudah memiliki 5 counter handphone. Pertanyaannya adalah, apakah toko itu atau usaha counter handphone tersebut akan bertahan lama?

    Pada kenyataannya toko yang ramai dengan pengunjung itu tiba-tiba di tutup, kemudian usaha counter handphone tersebut pun harus di bongkar. Apa yang terjadi? Apa yang salah pada toko dan usaha counter handphone itu? Ya, sesungguhnya hanya si pemilik bisnis lah yang tahu persis bagaimana kondisi bisnisnya. Celakanya, cukup banyak juga pemilik bisnis yang tidak mengetahui kondisi bisnisnya sendiri. Omzet tinggi, uang masuk banyak, namun ternyata kesulitan membayar sewa tempat dan gaji karyawan.

    Itulah pentingnya sebuah laporan keuangan. Jangan berpikir ini akan membutuhkan keahlian khusus yang tinggi dan biaya yang mahal. Paling tidak, Anda mengetahui persis, mana pos yang tergolong hutang-piutang, biaya operasional, dan mana yang benar-benar sudah diakui sebagai keuntungan bisnis Anda. Jumlah kas yang ada ditangan Anda, belum tentu semuanya “milik” Anda. Bisa jadi Anda masih ada kewajiban membayar hutang pada supplier. Keuntungan Anda yang terhitungnya sebesar Rp X, belum tentu sudah bisa Anda nikmati, siapa tahu masih ada yang berupa piutang dari customer. Dan lain sebagainya,

    Dari laporan keuangan ini lah Anda pemilik bisnis dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk pengembangan bisnis kedepannya nanti.

Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *